Monday, July 28, 2008

Coto Makasar

Bingung cari makan, udah malem tapi perut belum diisi... akhirnya kami memutuskan untuk hinggap di Depot Ala Maya, yang terletak di Dr. Sutomo no. 73. Kebetulan ini depot bukanya sampe jam 12 malem, jadi Ngincip engga keburu untuk menikmatinya, masih ada waktu dua jam sebelum tutup. Ala Maya gampang banget di cari, kalo bingung tinggal tanya aja KonJen Amrik, nah kalo dah nemu terus aja lurus ngurutin nomornya, ntar di sebelah kiri pasti nemu dah itu depot.


Coto Makasar ini makanan khas di Kota Makasar (dari namanya semua orang juga tau :p), biasa dihidangkan semangkuk kecil plus Ketupat. Rasa Coto ini pekat sekali, dagingnya empuk dilengkapi jerohan potongan ati, otak dll. Kuah coto diberi campuran bawang goreng dan daun bawang biar lebih sedep plus jeruk nipis sebagai penetralisir agar kuah yang pekat engga terasa eneg di tenggorokan.


Untuk pelega tenggorokan kami mencoba Pisang Ijo dan Es kacang merah, konon keduanya juga minuman khas Makasar. Pisang Ijo terdiri dari pisang raja dibungkus dengan tepung warna hijau, kemudian ditaburi "bubur sumsum" di atasnya kemudian diberi pasrahan es, susu kental putih dan sirup layaknya es campur. Es kacang merah lebih sederhana, hanya kacang merah rebus yang diberi pasrahan es dan dilumuri susu kental coklat, kacang rebusnya empukkk banget, pas pokoknya.

Perpaduan Pisang Ijo dan Coto Makasar ini engga disarankan Ngincip, mengingat dua-duanya adalah makanan yang pekat sekali, jadi abis maem perut rasanya jadi eneg :p. Dua-duanya oke punya, yummy banget. Total untuk dua coto, satu pisang ijo, satu es kacang merah, satu ketupat dan satu es teh manis adalah 39.500,-. Murah ato mahal? tergantung lidah anda menilai..

dari 5 coto, ngincip memberi nilai 4.. patut dicoba ;)


note : warung ini sekarang (2011) udah engga ada, tempatnya kena gusur :(. Ngincip belom nemu pindah kemana.

Saturday, May 24, 2008

Sate Klopo

Berdasarkan rujukan dari Buk Maya untuk incip-incip makanan emperan yang konon sempet didatengi ama acara televisi bertema makan-makan, jadinya ngincip penasaran juga pengen nyobain, sedahsyat apa toh rasaya...?? :D.

Sate klopo ini terletak di Jl. Ondomohen, Surabaya. Rute yang paling gampang adalah anda cari aja Delta Plaza, kalo udah ketemu jalan terussss kemudian di perempatan air mancur belok kanan (arah ke Balai Kota), ambil jalur kiri kemudian lurus mentok, pertigaan belok kiri, lurus aja, nanti sebelum naik ke jembatan, di sebelah kanan (hampir ujung jalan sebelum perempatan) ada emperan andok disana, bakul sate dengan keber warna kuning bertuliskan Sate Klopo. Nah itu dia tempatnya !!

Sate klopo disini ada tiga macem, Daging, Usus dan Sumsum. Saat itu ngincip bersama sukarelawan Mbak Supre mencoba sate daging dua porsi. Karena kita kehabisan lontong jadinya si penjual menawarkan nasi. Satu porsi sate ada 10 tusuk yang masing-masingnya terdiri dari 50% daging dan sisanya gajih alias lemak, sate ditaburi ama parutan kelapa kemudian dibakar diatas arang bathok. Jadinya saat digigit krenyes-krenyes kelapa masih terasa dilidah, dagingnya sendiri empuk, apalagi gajihnya :p. Bumbu seperti biasa bumbu kacang ditambah irisan bawang dan lombok, sayang bumbu kacangnya dikit banget. Nasi yang disuguhkan juga ditaburi serundeng kering yang gurih khas sate klopo.

Untuk dua porsi sate plus nasi putih dan es teh, ngincip menebus dengan harga 28ribu, mayan mahal juga :D

untuk rasa, ngincip memberi nilai 2,5 klopo dari 5 klopo, silahkan mencoba ;)... salam ngincip dari Surabaya.



Tuesday, May 06, 2008

Dim Sum Rado, Solo

Gara2 di protes sama yang punya blog gara2 posting pertama yang "panas" he he he he, kali ini aku bikin posting yang rada "adem" deh he he he he.

Waktu aku ke Solo, ternyata aku nemuin banyak banget tempat kuliner yang ciamik, baik rasa maupun harga. Salah satunya ya Rado Yam Cha ini. Letaknya di daerah Grogol, deket perumahan Solo baru, nama jalannya ga tau persis cuman sebelum air mancur Pandawa 5 yang sekarang jadi iconnya Solo.
Disana kita bisa makan dimsum dengan harga yang cukup "miring" kalo di banding sama di resto2 gede. Yang recomended Ha Kao (bener ga sih nih nulisnya), baso sapi, siomay, iga (kayanya) dibumbu asem manis gitu, pokoknya hampir semua tenong (kata orang solo tempat dimsum yang dari kayu ato rotan itu namanya tenong) enak semua. Enaknya dimakan pake bubur. Bubur di Rado, ga dikasi apa2 aja udah enak banget, rasanya dah gurih dan sedep.
pokoknya kalo ke solo, ga bakal di lewatin deh Rado ini, jadi makanan wajib, tiap hari musti dimampirin :p
Selain Dim sum juga ada chinese food nya, rasanya juga sama2 ngga kalah enaknya. Recomended koloke, soun goreng and bakmi gorengnya. Harganya juga cuman belasan ribu dengan porsi bisa buat 3 orang! menurutku sih cukup "miring" harga segitu udah dapetnya cukup banyak.
Well, kalo lagi jalan ke Solo, coba deh mampir sono.
OOw, sorry, photonya belum available:d ntar kalo balik sono lagi, pasti di poto sana poto sini deh:)

Friday, March 21, 2008

Seafood Santiga - Jakarta

Memperingati penugasan Lavender di Jakarta, dan setelah gagal ke festival Kenduri Rakyat Adira akhirnya November lalu aku mengajak Lavy dan seorang teman yang baru kenal mampir ke warung seafood yang terletak di Jalan Raya Benhil (kalo salah alamat punten yak :D) Jakarta Selatan. Ancer-ancer yang jelas adalah pasar Benhil. Kalau masuk dari Jl. Sudirman terus aja setelah lewat pasar dan perhatikan sisi kanan jalan. Seafood Santiga ini selalu ramai pengunjung jadi pasti mudah diketahui posisinya. Kalau masih bingung silahkan tanya tukang parkir.

Keistimewaan seafood di sini adalah harganya yang ga terlalu mahal dan rasanya yang 'mak nyooss!'. (Informasi ini kudapat dari liputan SCTV yang secara kebetulan aku lihat saat di Bengkulu.) Juga ada live music yang sebenernya ga begitu kedengeran suaranya karena kalah dengan suara kompor. Dan satu lagi, warung ini terletak di depan sebelah kiri Restoran Aceh sehingga kita bisa memesan makanan dari Restoran ini juga. Tak sedikit pengunjung yang memesan makanan di seafood dan memesan teh tarik -yang merupakan minuman favorit- dari Restoran Aceh tersebut. Karena baru pertama kali ngincip di situ kami tidak mengetahuinya dan memesan minuman standar dari warung seafood yaitu es jeruk, lemon tea dan es teh. Sedangkan makanan yang kami pesan adalah kerang rebus, (setelah tanya mas-mas di depan kita menu yang mereka pesan), cumi saus padang, kangkung telur puyuh dan 1 nasi putih. Sebenarnya pengen banget ngincip kepiting tapi karena si teman baru ga mau makan jadi ya dibatalkan. Akhirnya sambil menunggu pesanan datang kami celingak-celinguk ngintip apa aja yang dipesan orang-orang di sekitar. Lavy sebenarnya hampir kalap pesen kepiting tapi karena aku ancam buat makan sendiri akhirnya dia dapat dikendalikan :(

Pesanan yang pertama datang adalah kerang rebus. Benar-benar kerang yang direbus tanpa diberi bumbu apapun dan disajikan dengan sambal semacam saus sambal yang ditambah cabe lagi. Pedesnya mantab. Kerang rebus ini nampaknya merupakan menu favorit karena hampir di semua meja terlihat gundukan kulit kerang dan penyajiannya pun cepat. 3 orang mas-mas di depan kami malah hanya pesan kerang rebus aja tiga-tiganya tanpa pesanan lain.


Kemudian nasi putih, cumi saus padang dan kangkung telur putih muncul menyusul si kerang. Penasaran dengan cumi saus padang kami segera mencicipinya. Ternyata tiada yang istimewa. Biasa saja seperti cumi saus biasa. Yang bisa disebut istimewa malah kangkungnya. Aku tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata keistimewaan rasa kangkung telur puyuh ini. Bukan karena kangkung yang empuk atau telur puyuh yang bagaimana tapi ada rasa yang khas. Aku rasa itu bukan rasa saus tiram. Lavy please jelasin di komen ya...

Untuk semua yang telah kami pesan kami harus membayar 75ribu rupiah. Mayan murah kan? Dengan konsekuensi kami berdua kekenyangan meski mata masih lapar. Dan karena masih penasaran dengan kepiting dan kerang besar yang kami lihat diantar ke salah satu meja, aku dan Lavy memutuskan untuk datang lagi setelah pulang kantor beberapa minggu kemudian.

Kali ini karena benar-benar kelaparan setelah kerja seharian maka kami pesan kerang besar rebus, 1/2 kepiting bakar (karena 1 porsi isinya 2 ekor dan kami yakin ga bakalan sanggup habisin), kangkung cah udang (kangkung tetep fav :p) dan 1 nasi putih.

Seperti sebelumnya kerang rebus juga datang lebih dulu. Rasa penasaran kami sebenarnya tidak perlu karena ternyata kerang kecil lebih tasty daripada kerang besar. To ittemo wakaranai yo nee...
Lebih tepatnya kerang kecil lebih gurih dibanding kerang besar. Dari segi penampilan juga kerang besar ini cangkangnya berwarna hijau tetapi ada beberapa bagian yang berbercak putih jadi agak mengurangi selera makan.


Kepiting bakar kami pilih dengan pertimbangan saus padang ternyata tidak istimewa, sedangkan yang lain (saus tiram, saus mentega, asam manis) pun tidak menarik. FYI, di seafood sini, udang, cumi, kepiting, ayam masing-masing ada menu saus padang, saus tiram, saus mentega, asam manis dan bakar. Sedangkan untuk ikan ada goreng, bakar, sop ikan sayur asin, ikan asam manis, ikan tahu tauchi. Dan 2 jenis menu kerang yaitu kerang rebus dan kerang saus tiram. Menu kepiting bakar tidak mengecewakan kami kali ini. Perlahan tapi pasti kami menikmati sensasi kelembutan daging kepiting bakar. Kami tidak banyak mengalami kesulitan dengan cangkang kepiting karena kokinya dengan baik hati telah meremukkan cangkang untuk memudahkan kami menyantapnya.
Untuk semua yang kami pesan plus 1 es teh tawar, 1 teh botol dingin, dan 1 es jeruk kami harus menebusnya dengan Rp. 97.500,00 lunas. :p

Bagi teman-teman pembaca jika sedang berada di sekitar Benhil, Plasa Semanggi, pada malam hari, silahkan menyempatkan diri untuk mampir ke Seafood Santiga.

Wednesday, March 12, 2008

Hiu Bakar - Hiu Segaran

Pernah denger tentang hiu bakar ? Mungkin pernah dari acara wisata kuliner di tipi. Tapi saya baru baca kemarin waktu keliling2 nyari makan di kota semarang sekitar jam 21.30an di pinggir jl. Gajah Mada. Tepatnya di Jl Gajahmada no 146.

Saya sendiri bingung, gimana cara nangkep hiunya ? Apa hiu beneran yang dimasak? Kata pemiliknya (saya pikir, dia pemiliknya si), dia datangkan bayi hiu dari Bali. Tiap 1 minggu sekali. Dia juga sempat menunjukkan kepala hiu yang telah dipotong pada saya.

Pokoknya, malam itu, saya dan rombongan nyoba makan di sana. Ada paketan untuk 1 orang, isinya nasi putih & 1 ons ikan ( bisa ikan hiu, mahi2) dan sambel harganya sekitar Rp. 12.000,-/porsi. Ada juga ikan marlin, tuna, salmon, kepiting, udang, kerang & aneka cah sayur.

Pesanan waktu itu, 1 porsi ikan kakap kuah asam ( ini fave saya ^^. asemnya kerasa seger banget ). bisa dimakan untuk 3 - 4 orang.


3 ons ikan mahi2 & 1 ons ikan hiu ( soalnya takut kalo ternyata ga suka ).


Dengan pesen minuman aneka juice, total makan kami ber4 habisnya sekitar Rp. 120rban. bener2 kenyang ^^.

Berminat nyoba ? Hiu bakar itu emang unik & patut di coba ^^. tapi berdasarkan selera saya, kalo mau makan ikan bakar di situ, lebih enak ikan mahi2nya. :p.

Swikee Purwodadi

Lokasi : Jl. Kol. Sugiono no 11, Purwodadi

Di Purwodadi ini, yang terkenal emang Swikeenya. Dalam perjalanan ke Semarang lalu, Vanie sempat mampir di depot Swikee Purwodadi (pusat). Ada cabangnya juga si, di Semarang ( Jl. Imam Bonjol 69 ) dan di Yogyakarta ( Jl. Diponegoro ).


Siang itu vanie & rombongan pesan swikee kuah ( swikee kuah taoco ), kodok goreng mentega ( ini ternyata swikee yang dimasak dengan saos inggris ) & kodok goreng tepung.


Hasilnya.... Vanie suka sama swikee goreng menteganya ^^. bumbunya enak pointnya 4 dari 5. swikee kuahnya itu juga lumayan si. kalo kasih point... 3 dari 5 deh. untuk kodok goreng tepungnya, vanie rasa malah biasa aja. :p.

Gudeg & Ayam Goreng Kalasan - Nglaras Rasa

Lokasi : Jl. M.H Thamrin no 124

Pertama kali ini saya mampir ke Rumah Makan Nglaras Rasa. Rumah makan ini ternyata resto kuno sejak zaman perang dulu. ( di sana ada foto2 kuno RM itu ) Awalnya berupa warung, lalu jadi depot, sekarang udah berupa resto besar dengan AC.

Ayamnya dimasak mirip dengan ayam Sri Pandaan, tapi rasanya lebih kearah asin. enak. sambelnya juga mirip dengan Sri. Tapi tetep, dia punya rasa yang berbeda dari Ayam Sri. Lebih besar, lebih murah, & lebih enak. ^^


Rumah makan ini terkenal dengan Gudeg & Ayam goreng kalasan-nya. Gudegnya juga mantap siiii ^^. Banyak lauknya ^^. Sayang lupa motret nasi gudeg & ayamnya. Vanie terlalu lapar siiii =)).

Cuman sayang, Vanie engga terlalu suka dengan suasana dalam restonya. Cukup bersih emang. tapi terkesan gelap, bukannya segar atau romantis. entah kalo malam hari. pencahayaannya kurang bagus menurut vanie. Gpp juga si, yang pentingkan rasa makanannya. bukan tempatnya. Iya kannn ^^.

Rumah makan ini emang menjadi salah satu tempat wajib untuk dikunjungi kalo lagi jalan ke semarang.

Monday, March 03, 2008

Oleh - Oleh

Ini daftar makanan favorit saya selama di Semarang :

1. Toko Bandeng Juwana - Jl. Pandanaran 57 & 83.
Di sini dijual berbagai oleh2 khas semarang. Kalo emang punya hanya sedikit waktu untuk kelilingan, toko ini benar2 wajib dikunjungi. Selain Bandeng Juwana, Otak-otak bandeng, ada dijual di sini Kue moaci, pia bayi Tjiang Goan, (memang lebih mahal sedikit daripada di tempat aslinya tapi harga itu masih akal demi penghematan waktu bensin), bersama dengan banyak macam kripik, brownies dan camilan lainnya.
Di depan toko itu juga dijual kacang presto Bu Yun yang empuk banget. Cocok sekali buat gigi2 yang rapuh :p. hehehehe. enakkkk. Tapi kalo nyimpan, jangan lupa masukin di kulkas yahhh. Modelnya mirip sama kacang godog si.

2. Sanitas Bakery - Jl. Mt. Haryono
Khusus hari Minggu, Sanitas tidak bikin roti, jadi roti yang dijual di hari minggu adalah roti kemarinnya. Rotinya tahan 3 hari (tanpa masuk kulkas, tidak berubah rasa, tanpa pengawet). Bisa pesen untuk dikirim ke surabaya, untuk minimal pemesanan kira2 50 bh roti. Roti yang paling saya suka adalah roti keju, roti coklat. selain itu masih ada roti sosis babi, roti worst (roti isi maling), roti sobek, dll. Banyak pokoke. (harganya rata2 Rp. 6.000,-)

3. Kue Moachi - Jl. Kentangan Barat 101
Selain Kue moachi, ada juga jual kastengel schuimpyes, coklat skemptjes, juga ada beberapa cemilan lainnya. Mama suka sekali sama kastengel schuimpyesnya. tapi saya yang tidak terlalu suka manis, kurang menyukainya. ( schuimpyesnya terlalu manis bagiku )

4. Pia Bayi Tjiang Goan Gang Beben no 94
Pia ini emang unik. Saya ga tau kalo ada pia model ini. Ada 3 macam isi, yi : coklat, aren, & babi. Saya lebih suka yang coklat. tapi saya lebih menikmati pia Gaya Bali yang panjang2 ^^.

5. Seharusnya ada Pia di jl. Kuningan. pia-nya isi coklat / aren. mungil2. sekali "emplok". Tapi saya tidak sempat ke sana kemarin. Saya si jauh lebih suka pia yang itu dari pada pia bayi :p. :p. tapi papa sangat menyukai pia bayi ^^. Siapa tau ada yang berminat nyoba. Layak dicoba si untuk penggemar pia.



Saturday, February 09, 2008

Nasi Timbel - Tip Top

.
Timbel yang saya tahu adalah sebuah benda kecil berwarna abu-abu dan berfungsi sebagai pemberat. Benda ini biasanya di pasang di ujung senar pancing untuk memperkuat lemparan biar lebih jauh dan agar kail tidak mengambang. Namun Nasi Timbel yang di survey Ngincip dan Miss Supre bukan nasi berlauk pemberat itu tadi, namun Nasi Timbel hanya sebuah istilah penamaan saja.

Nasi Timbel entah dari daerah mana asal muasal nama itu terbentuk lebih cocok kalo disebut dengan Nasi Sayur Asem komplit. Komplit karena lauk pauknya yang melimpah ruah. Nasi Timbel di Surabaya di jual di Depot yang bernama Tip-Top, tepatnya di jalan Manyart Kertoarjo V/38. Kalo bingung daerah sini tanya aja sama orang-orang jalan menuju ke Supermarket Bonnet di Manyar, nah.. depot ini sederetan ama Supermarket tersebut.

Nasi Empal & Sayur Asem

Depot ini tidak besar, kira-kira ada lima meja kecil untuk menampung empat orang dan lima meja besar (meja keluarga) yang bisa dibuat maem bersama untuk delapan sampai sepuluh orang. Kondisi ruangan cukup nyaman, AC dingin, ruangan bersih dan pelayanan cukup cepat.
Menu yang ditawarkan seputar makanan rumahan (istilahe keren'e opo yo??), namun menu spesialnya adalah Nasi timbel. Nasti timbel bisa dikolaborasikan dengan berbagai lauk yang beraneka ragam, Bandeng, Ayam, Bebek, Empal dan lainnya. Saya mencoba Nasi Timbel Empal dan Miss Supre Nasi Timbel Ayam.
Baik Nasi timbel Ayam maupun Empal ada lauk standar yang disajikan, seperti tahu dua potong, tempe satu potong ikan asin (gerih) yang engga seberapa asin, potongan ayam kecil2, kremesan (bisa nambah gratis), mentimun sebagai lalapan dan tentu saja Sayur Asem.


Empal cukup empuk, mudah dipotong dengan sendok garpu, ikan asin juga enak kriuk-kriuk, begitu pula kremesannya yang menambah taste jika ditaburin diatas nasi. Sayur asem dihidangkan terpisah di dalam mangkuk kecil, isinya kacang panjang, kol dan krai. Sayur asemnya sendiri enak banget, rasa asemnya mantap dan pas. Kacang Panjang dan Kol dibuat agak matang tapi engga terlalu lembek, jadi masih kriuk saat digigit. Kuah yang butek menurut Miss Supre itu dikarenakan campuran miri yang rada banyak, lidah saya tidak cukup peka untuk membedakan dimana rasa asemnya dan kemirinya??. Setahu saya miri itu buat penyubur rambut kalo dibakar dan diambil minyaknya :p

Kekurangan dari depot ini adalah,
1. Ada lalat berkeliaran, meskipun tidak mengganggu karena menurut saya lalat2 itu membuat suasana tampak lebih alami haha
2. Kuah sayur asemnya dikit banget, padahal itu yang enak.
3. Lauk pauk engga seberapa panas, coba kalu empal, tahu, tempe masih panas kebul-kebul pasti lebih sip margosip.
4. Tidak ada harga di menunya

Total untuk dua es teh, nasi timbel ayam dan nasi timbel empal adalah duapuluh delapan ribu rupiah. Mahal / murah?? sekali lagi, tergantung lidah anda yang menilai ;). Salam nginciup dari kota pahlawan...

Dari lima timbel ngincip memberi nilai empat setengah timbel untuk sayur asemnya, layak dicoba :)

Thursday, January 03, 2008

Kayu Enam

.
Pertama kali mengunjungi tempat ini sekitar tiga atau empat tahun lalu, rumah makan tradisional di kawasan Surabaya yang unik dan enak buat ngobrol-ngobrol.

Kayu Enam, entah mengapa dinamakan seperti itu, namun yang pasti tempat ini memang sarat dengan bangunan dari kayu, baik gubuk2nya buat cangkrukan maupun meja buat duduk, semua di dominasi oleh kayu. Kayu Enam terletak di Jl. Jemursari Selatan IV / 6 Surabaya, dapat dihubungi di nomor telepon 031.8474196. Rumah makan ini menyajikan makanan khas dari pulau lombok.


Ngincip bersama Miss Supre saat itu mencoba menu Gurami Bakar Madu dan Plecing Kangkung. Gurami masih fresh banget, ditangkep langsung dari kolam penampungan kemudian dibakar dan ditaburin bumbu yang rasanya manis agak pedas, entah manis ini berasal dari madu atau apa. Gurami dibakar cukup matang tapi engga sampai krispy, daging di sayat di beberapa bagian dan bumbu dibiarkan meresap sehingga tiap bagian dari ikan terasa yummy. Sedang plecing kangkungnya renyah sekali, sepertinya ini memang kangkung dari lombok, batangnya besar2 dan berwarna hijau muda, renyah saat di gigit, engga alot seperti kangkung lokal di sby yang kecil2.


Kangkung ditaburin ulek-an sambel dan kacang tanah goreng diatasnya, mayan ajaib ramuan lombok ini karena perut saya yang sensitif ternyata engga bereaksi setelah menelan campuran plecing dan lombok ini.

Saat Ngincip dan Miss Supre mensurvey ada beberapa nilai minus untuk tempat ini, yaitu banyak lalat berterbangan, mungkin karena bau ikan bakar ini. Sayang mas-nya engga seberapa peka untuk menyalakan lilin. Ehmm.. tempat ini sepertinya oke banget kalau malam2, terlihat romantis (asal gak ada nyamuke :p).

Total yang harus ditebas untuk 1 porsi gurami bakar madu, 1 plecing kangkung, 2 nasi putih, 1 es lemon tea dan 1 es teh manis adalah 48 ribu rupiah. Mahal? tergantung lidah anda... ;)

untuk rasa ngincip memberi nilai 4 1/2 dari 5... layak dicoba...

salam ngincip dari Surabaya

Thursday, November 22, 2007

Korean Traditional Porridge (본죽 - Bokjuk), Incheon - South Korea

We saw the Bokjuk restaurants for so many times actually. It can be found like almost everywhere (at least) in this city. But last Saturday was the first time we tried it, this time the one nearby Lotte Mart. It took about 20 minutes walking from our apartment in a very cold weather, but it worthed!



It was lunch time so the restaurant was pretty crowded. The menu list was in three languages: Korean, English and Japanese so we didn't get any difficulty to decide which one to choose. Toooo bad I forgot to take picture so I couldn't remember the Korean name of porridge we ordered. I had porridge with mushroom and oyster while Hiro had porridge with abalone.



The porridge came in a large bowl with Korean chili paste, kimchi, and braised pork (maybe) in soy sauce as side dishes. The porridge itself had kind of grated nuts and seaweed as topping. It did smell good and I felt starving in a second.
My porridge was really tasty, with rich amount of mushrooms and oysters. The Kimchi was fresh, and for me the pork was really a perfect match for the porridge (I even finished Hiro's). Hiro's porridge was also very delicious but the abalone was cut into tiny pieces, perhaps because abalone is not as cheap as oyster.

My porridge was 8000 won, and Hiro's porridge was 10,000 won. Bit pricey compared to other Korean food we've had, but I really like it that I'm so sure I'll eat it again sometime soon.

This porridge is now on my "Korean Top Food" list. Too bad we only have about 4 weeks left living here, but I hope at least we could have 3 times porridge lunches (we only dine out on Saturday)

PS: sorry pake bahasa Inggris. Postingan ini sama persis dengan blog pribadi saya. Gak ada waktu buat translate ke Indonesian :p

Saturday, October 13, 2007

Lontong Kikil

Pada awalnya kami ingin mencoba Lontong Kikil yang pernah diulas di sebuah televisi tentang wisata kuliner, Lontong Kikil yang berada di daerah Simolawang. Namun setelah mecari dua kali daerah tersebut dan tidak ketemu akhirnya perburuan Lontong Kikil berubah haluan ke daerah Waru, jauh amat haluannya yak :p.

Ngincip kembali mensurvey bersama Pratu. Pratu ini seperti rekan saya si Denny, namun bedanya dia terbungkus dalam tubuh seorang wanita hiakakaka. Dia mampu menghabiskan semua makanan dengan tandas tak bersisa termasuk siap menghabiskan makananku yang tak habis pula, anggota ngincip tulen :p.
Lontong kikil Waru terletak di daerah Waru dan konon penjual yang sekarang adalah generasi ketiga alias cucunya, untuk menuju kesana paling gampang anda cari saja bunderan Waru, tapi ambil sisi kiri jangan belok kanan ke bundaran. Jalan lurus aja sampai tampak Jembatan layang, tetap ambil sisi kiri (jangan naik jembatan). Seteleh itu ganti haluan ambil sisi kanan mepet ke jembatan, setelah itu putar balik (kalau belok kanan ke Terminal Purabaya). Setelah putar balik liat sisi kiri, nanti ada warung cilik yang cukup rame, warung Lontong Kikil Waru, nah itu dia... !!


Lontong kikil ini disajikan dalam sebuah mangkuk, terdiri dari empat atau lima potong kikil yang cukup besar, kikilnya empuk banget. Bagi para Bapak-Ibuk yang pakai gigi palsu pun tak perlu kuatir untuk mencicip menu ini hehe. Menurut Pratu, kuahnya terlalu bening dan kurang kental, namun menurut saya rasanya cukup full taste. Rasa kaldunya cukupan engga terlalu menyengat, di meja disiapkan potongan jeruk purut untuk campuran kuah biar engga terlalu enek, tapi sayang jeruk purutnya kok rada hambar alias kurang masam, jadinya engga seberapa pengaruh setelah di kecrotin. Untuk penyedap, lontong kikil ditaburin ama potongan daun bawang, dari bonggol sampe daunnya dimasukin semua.

Harga yang harus ditebas untuk dua porsi kikil, lontong dan dua gelas es teh adalah delapan belas ribu rupiah (betul ? saya ditraktir soalnya jadi engga perhatian haha), patut dicoba.

Ngincip memberi nilai tiga setengah dari lima. Salam ngincip di cerita berikutnya ;)

Saturday, September 08, 2007

Nasi item

Pada awalnya bermula dari sebuah perbincangan di blog teman tentang mie item yang ada di Jakarta, tapi entah mengapa pembahasan berbelok ke nasi item yang bercokol di Surabaya, tepatnya Jalan Klampis Jaya No. 25B. Ngincip kali ini 'nodong' Pratu sebagai guidenya, kebetulan tanggal muda dan tentunya yang bersangkutan masih berkelimpahan kekeke.

gbr : suasana di dalam Rice Box

'Rice Box', itu nama restonya.. engga seberapa besar, kira-kira hanya ada 8 meja saja yang masing-masingnya dapat menampung empat orang. Suasana di dalam lumayan nyaman, konsep minimalis dengan dominasi warna orange membuat tampak segar diiringi alunan musik easy listening yang sedikit nge-jazz, volume sayup-sayup cukup jelas di telinga namun tidak mendominasi sehingga perbincangan lirih pun tidak terganggu olehnya, pendingin udara juga pas temperaturnya.


gbr : nasi goreng selangit (kiri), nasi goreng item (kanan)

Kami mencoba dua menu, Nasi Goreng Item Seafood& Nasi Goreng Selangit. Nasi goreng item, memang nasi yang di goreng biasa namun berwarna hitam, bukan hitam gosong tapi konon hitam itu berasal dari campuran tinta cumi-cumi (atau gurita yak ?? lupa :p), rasanya mayan unik tapi kalo lidah engga peka ga bisa ngerasain bumbu khasnya, soalnya lembut banget. Nasi Goreng dicampur dengan potongan-potongan udang dan cumi yang engga pelit alias mayan banyak berserakan. Nasi dihidangkan bareng dengan sambal 'ramuan khusus' yang uueenaaakkkkk... agak manis dan pedesnya pas, jadi perutku yang sensitif ini tidak berontak :D, disamping itu acar juga enak, di potong tipis2, manis kecut dan sedikit kenyal... sepertinya itu krai ya ?, bukan mentimun.

Ibuk Guide si Pratu memesan Nasi Goreng Selangit, warnanya coklat gelap. Ngincip mencomot sesendok dan... rasaaneee ueenakkk ternyata. Nasi Goreng ini diberi bumbu rawon, dan kayaknya rasa kluweknya kentara banget alias remasuk di nasinya, jadi aromanya berat. Nasi Goreng selangit diberi sambal khusus dan krupuk beberapa biji, ngincip engga sempet merasakan sambalnya (keburu abis) :p.

Porsi menurut ngincip mayan boanyak, ini porsi kalo dirumah bisa dimakan buat dua kali jam makan, jam enam malem dan jam sembilan malem, tapi heran si Guide kok ya bisa abis ludes ... terus terang, aku pulang kelempoken wakakaka

Nasi goreng seafood bisa diganti dengan harga 16rb, sedang nasi goreng selangit ditebas dengan harga 15rb. Mahal ? Murah ?... tergantung lidah anda menilai :)

salam ngincip dari Surabaya....

Monday, August 20, 2007

Sosis Putih Bayern München

Posting pertama dari negerinya Mas Hitler nih... hehehe. Kali-kali aja ada yang pingin mampir ke Munich atau München, ibukota negara bagian Bayern, (semua pasti tau klub sepakbola Bayern München dong). Di Bayern, harus nyoba yang namanya Weisswurst (weiss = white, wurst = sausage), alias sosis putih. Sosis ini khas cuma ada di Bayern aja, di negara-negara bagian Jerman lainnya ngga ada, dan kalaupun bisa nemu di Surabaya (denger2, Ranch Market dan supermarket2 internasional di Surabaya pada jual makanan import?), pasti rasanya palsu, hihihi.




Sosis putih ini khas dan mengundang pro-kontra. Kenapa khas? Karena dihidangkan dengan air rebusan sosisnya juga. Sementara sosis-sosis lain umumnya kan digoreng atau di-grill atau di-barbecue, dan warnanya coklat. Kalau di Thüringen, negara bagian tempat Bratwurst yg terkenal itu berasal (pernah denger Bratwurst kan? Sosis goreng yg dimakan pake roti kayak hotdog gitu), semua orang pasti ngejek-ngejek sosis putihnya Bayern. Kata mereka "Sosis kok direbus pake air panas. Yekkk, nyenyek-nyenyek, basah, putih jelek dan ngga enak". Hihihi.

Padahal aslinya Weisswurst ini enak lho. Baru nyoba pertama kali kemarin, berhubung udah tinggal 2 minggu di Bayern, sekalian aja ikutan ngampung seperti ciri khas orang2 Bayern, dan ikut makan masakan "aneh" mereka.


Sosisnya dihidangkan di kuah mirip kuah bakso gitu, ada daun seledri nya. Yang lucu, waktu mau nyeruput kuahnya, LHO?, ngga disediain sendok??? Ohhh ternyata kalo orang Bayern makan sosis rebus ini, kuahnya enggak dimakan, cuma dibuat penyedap rasa aja. Hihihi, padahal kalo di Indo kan kuah itu yang paling enak diseruput. Akhirnya saking ngiler pingin tau rasanya, penulis terpaksa menyeruput kuah sosis itu dari mangkok langsung, hehehe. Eh ternyata enak lho, gurih-gurih gitu. Khas kuah kaldu, walaupun kurang gurih karena ngga pake ajinomoto atau MSG pembawa kanker khas kuah Indonesia, hehehe.



Lebih unik lagi, sosis putih ini ternyata bukan dimakan dengan dipotong-potong gitu. Menurut teman (orang Jerman juga) yang ikutan makan kali ini, orang Bayern asli makan sosis ini dengan diseruput bagian dalam dagingnya yang putih, gurih, dan empuk itu. Jadi sosisnya dipegang pake tangan atau garpu, terus isinya DIHISAP sampe habis (hussshhh jangan bayangin aneh-aneh ya), sampai tinggal kulit sosisnya aja terkulai dan ditinggalin di mangkoknya.
Sosisnya sendiri gurih, sedap, nggak terlalu asin, tapi rasa 'babi' nya kental banget, dan karena direbus, dagingnya empuk dan halus seperti meleleh di lidah.

Sosis putih ini dihidangkan dengan saus mustard buat cocolan, dengan pretzel (roti kering yang uasiiiinnn buangetttt). Mustard-nya aneh banget, coklat jelek dan rasanya manis-manis asam plus tajammmm menusuk lidah. Penulis memutuskan, mustard khas Bayern ini enggak enak, selain karena warnanya mengingatkan sesuatu yang menjijikkan (hehehe...) rasanya juga terlalu tajam karena manis asam dan agak-agak berbau lobak. Aneh dehhhh pokoknya. Lebih enak pakai saus tomat biasa.






Harga sosis ini 1,5 euro per biji, hmmm kalau dirupiahkan (dengan kurs 12.000 per 1 euro), sekitar 18 ribu rupiah per potong. Pretzel nya gratis, mustard nya juga. Wahhh tapi jangan salah, makan 2 sosis putih Bayern ini kenyaaaanggg buanget, karena sosisnya guedheeee, panjang dan gendut (satu sosis panjang sekitar 20cm dan diameter 4cm), nggak kayak sosis Indo yang biasanya kurus dan pendek (sekali lagi, ini masih tetep ngomongin perbandingan sosis lho, jadi jangan bayangin aneh2).



Restauran tempat jual sosis putih ini ada dimana-mana, biasanya sih di Biergarten (beer garden) alias warung outdoor khas Bayern (yang dijadiin ciri khas Jerman juga). Cukup murah buat standard bule, dan sosisnya bikin kenyang.



Sekian laporan tentang sosis bule, eh, sosis putih... hehehe. Ada yang tertarik?

Monday, July 23, 2007

Entil Pupuan - Bali

Minggu kemaren dapet oleh oleh dari Pupuan. Whoaa... udah suatu peraturan tak tertulis setiap yang pergi ke Pupuan pasti baliknya bawa makanan khas dari sono. Namanya entil.

Khas banget karena emang gak ada di tempat lain manapun. Yang jual juga cuman di satu tempat, di tengah pasar pupuan deket ama terminal. Bukanya juga cuman siang hari ampe jam 5an. Kalo telat bentar aja, berarti siap siap kehabisan karena dagangnya sangat teramat laris sekali, apalagi kalo kebetulan di daerah Banjar Singaraja sedang ada upacara agama, dijamin berebut antri.

entil yang baru mendarat, sebelum di bongkar muat

Kenapa orang orang getol banget ama entil pupuan ini? Yang pasti rasanya enak, trus entil nya itu tipis banget bungkusannya. Dan ga pake daun pisang seperti entil umumnya. Tapi pake daun yang lebar gitu (sudah banyak kali dikasi tau tapi saya lupa terus namanya, hehehe)

Entil biasanya dimakan dingin, mirip mirip lontong sayur sebenarnya. Tapi ini balinese style banget. Satu porsi itu isi entil 2 bungkus, trus pake sayur urap, serundeng ( parutan kelapanya besar besar dan kering , gak manis seperti serundeng umumnya ) trus disiram pake "be jeruk" yang sedikit berkuah.

Wait! "be jeruk" bukan berarti terbuat dari buah jeruk. Hehehe... Ini sebutan makanan khas bali yang isinya daging ayam suir suir dicampur sama kelapa parut, dan berkuah warnanya kuning.


Dari segi rasa sudah dipastikan yummy, dan mantab! Seporsi yang harganya duaribu lima ratus udah bisa buat kenyang banget.
Sayangnya gak bisa sering sering makan entil pupuan ini, jauhhhh...

Jadi kalo ada yang kebetulan dari Denpasar mau ke Singaraja dan ambil jalur Pupuan, mungkin sekali kali bisa mampir dan nyicip rasanya entil ini. Kalo bingung cari tempatnya, tanya aja di deket sana, pasti semua pada tahu.
Okay....

Monday, July 02, 2007

(Mie Aceh) Warung Bang Djali - Blok M Jaksel

'mau makan di restoran padang
bukan berarti harus ke padang
cukup ada di sini, dekat kita sendiri
kita tinggal menikmati'

Masih ingat lagu yang dinyanyiin Enno Lerian kecil itu? Tapi ternyata hal itu hanya bisa berlaku di Jakarta yak? Karena di Surabaya saya ga nemuin makanan yang disebut 'Mie Aceh'. Baru setelah ke Jakarta saya bisa merasakan makanan ini.

Kira-kira sebulan setelah datang ke Jakarta ini, seorang teman sesama perantau dari Surabaya ngajakin nyoba makanan ini. "Warung Bang Djali" ini gampang banget ditemuin karena letaknya yang strategis. Naik aja busway jurusan 'Blok M - Stasiun Kota', turun di halte terakhir Blok M. Turun dari busway trus lewat pintu keluar. Tangga terakhir langsung belok kanan dan ketemulah warung ini. Tepat di sebelah kanan pintu keluar busway. Jadi kalo ga naik busway, cari aja di tiap pojok lobby keberangkatan (?) terminal Blok M pasti nemu warung ini di salah satu pojokannya.

Ada mayan banyak menu di warung ini, tapi jangan cari menu 'mie Aceh'. Ga bakalan nemu! Cari aja menu 'mie rebus/goreng'. Itu aja dah merujuk ke mie Aceh. Atau 'mie tongseng' (apa oseng ya, lupa lagi, maaf). Pertama datang dulu, ngincip mie tongseng itu ternyata rasanya ga beda ma mie rebusnya hanya kuahnya yang dikit.

Emang rasanya seperti apa? Pernah makan kari Thailand atau Pakistan atau India? Nah mirip itu. Jadi bumbu rempah-rempahnya kerasa banget. Ato daripada susah coba aja mie instan merk 'Kare'. Mirip itu juga. Tapi di 'Warung Bang Djali' ini rasa rempahnya lebih manteb beibeh! Mienya pun ga terlalu empuk jadi pas banget.
Tapi hati-hati! Tiup mienya kuat-kuat kalo tidak ingin lidah terbakar pada suapan pertama. Terutama jika memilih mie kuah! Dan, satu lagi untuk yang ga bisa makan makanan pedas, siap-siap aja pesen minuman yang banyak. Emang pedes gitu? Ya dong!!! Kari gitu loh. Kari sama dengan pedes! Harus itu. :)
Untuk topping bakal ditemuin emping, mentimun dan acar bawang merah + cabe rawit. Kalau beruntung kadang ada daging kambing keselip diantara mie. :p

Untuk satu porsi mie di sini, 9000 rupiah harus dibayar ke kasir. Hari ini untuk makan ma adik-adik tingkat semasa kuliah, saya ngeluarin Rp 31500 untuk 2 mie kuah, 1 mie goreng, 1 es teh tawar, 1 es teh manis, dan 1 teh botol sosro. Harga standar untuk makanan di Jakarta.

Teman saya juga merekomendasikan roti canai, tapi maaf, saya belum sempat mencicipinya. Ada yang minat ngincipin roti canainya? Ceritain ke saya gimana rasanya yak?!

Pesan terakhir! Kalo makan di sini bawa kipas tangan deh soalnya panas buanget meski dah ada kipas angin di dinding. Mungkin ga ya, dipasang AC di warung ini???

Thursday, June 28, 2007

Rawon Setan - Surabaya

Beberapa waktu yang lalu di Surabaya sempat heboh gara-gara muncul gembar-gembor adanya Rawon Setan. Jadi bertanya-tanya, kenapa itu rawon dinamakan Rawon Setan ? ... apa penjualnya setan ? atau berdandan ala mbak kunti dan kawan-kawannya ?. Bukann !!, ternyata julukan ini bermula dari penjual Rawon yang bukanya mulai jam 22.00 wib alias jam sepuluh malam hingga dini hari.
Namun entah mengapa sekarang Rawon Setan ini sudah kehilangan "ciri khas"nya... beberapa waktu yang lalu ngincip mencoba ini rawon jam 21.00 wib dan ternyata sudah buka. Sayang sekali, mungkin mengejar omset yak ? hehehe...

kiri rawon pisah, kanan rawon campur, maap fotonya ancur.. pake hape soalnya :p

Rawon setan ini terletak di Jalan Embong Malang, persis di seberang Hotel JW Marriott, untuk lebih mudahnya cari saja Tunjungan Plaza di jalan Basuki Rahmat (kalo bangunan ini pasti dah penduduk sby dari tukang becak sampai sopir taxi tahu), teruusss aja lurus (ambil sisi sebelah kiri). Nanti kalau ada pertigaan lurus/kiri aja (kalau kanan ke Grahadi). Nah sampai deh di jalan Embong Malang, ambil sisi kanan dan pasang mata baik-baik.

Pada dasarnya Rawon Ini rasanya normal aja, engga ada bedanya ama Rawon buatan nyokap. Saat ngincip mencoba kuahnya..sluurrpp... ehmm taste-nya krasa rawon banget, bumbunya sedep dan kluweknya pas banget di lidah tapi engga ada yang istimewa, namun yang membuat beda adalah saat ngincip melahap dagingnya, dagingnya empuk puk puk dan berukuran gedheee, entah itu daging di presto atau apa, masih segar tapi lembut seratnya.
Ngincip mencoba dengan sepupu tempo hari, merogoh kocek sebesar Rp. 46.000,- untuk dua porsi Rawon Campur, satu porsi Rawon pisah, satu es teh tawar dan satu jeruk hangat.

ngincip memberi nilai 4,5 setan dari 5 setan.... patut dicoba :).

salam setan... eh.. salam ngincip..

Thursday, June 14, 2007

Baby octopus - Incheon, South Korea

Makan masakan (hmmm bisa disebut masakan kah?) ini udah 1.5 tahun yang lalu. Tadi liat2 file lama trus nemu. Gak ada salahnya dishare sama rekan ngincip (^_^).
Terkenal kok di Korea. Bisa ditemui dibanyak restoran yang jualan seafood. Biasanya didepan restaurant ada aquarium display isinya ikan, octopus, kerang yang nantinya bakal dieksekusi dan dihidangkan di meja anda hihihi.


Baby octopus yang dipotong-potong bite size itu dihidangkan di piring putih dihiasi irisan tipis mentimun, sama kecap asin di piring kecil buat cocolan.
Yang bikin shock, lihat video ini:



Rasanya? I was too shock to enjoy it.
Waktu disendok, octopus malang itu menggeliat geliat mau melarikan diri. Waktu dipaksa masukin ke mulut, octopus malang itu masih menggeliat geliat berusaha kabur, nyangkut di gigiku. Waktu dipaksa masuk tenggorokan (alias ditelan), octopus yang gak punya harapan hidup itu serasa masih bergerak2 di kerongkonganku. Hueeeeee......cuma bisa makan 2 sendok trus nyerah.

Akhirnya jerit2 minta octopus itu di "bunuh" sekalian. Gak tega ngeliat ibu hamil tua shock, si pelayan bawa panci gede, octopusnya dimasukin sana, disiram air, dikasih daun bawang, mentimun korea, irisan cabe hijau sama kerang). Pancinya ditaroh portable gas stove, ditutup trus didihkan. Baby octopus yang malang......


Tapi ternyata, uenak kok kalo dibikin soup hihihihihi. Seger, dan kuah seafood bikin soupnya tasty. Irisan cabe hijau bikin ada tendangan rasa pedas sedikit. Recommended deh!

Thursday, June 07, 2007

Tahu Kraton - Surabaya

Sudah lama banget mau posting makanan ini tapi gak sempat-sempat, bukan lantaran engga ada waktu tapi sudah dua kali lebih makan disana tapi ada saja masalah yang berkaitan dengan jurnalistiknya :p, bateray abis engga bisa motret lah.. lupa harganya lah.. jadinya info yang mau di tulis gak lengkap.

Nah kemarin ini untuk yang kesekian kalinya (lagi) makan Tahu Kraton atau yang lebih familiar dengan sebutan Tahu Campur. Responden kali ini membawa Emmy sensei yg kebetulan lagi datang berkunjung ke Kota Pahlawan, manusia asing yang ternyata lebih mengenal Surabaya dari pada penduduk aslinya :)).... akhirnya jadi juga ya makan disini setelah gagal tempo hari hahaha...

Tahu Kraton terletak di jalan Ngemplak Gang I (ada plang penunjuk jalannya di depan dengn tulisan "TAHU KRATON"), bagi yang bawa roda empat, bisa diparkir di mulut gang kemudian jalan sekitar dua puluh meter kedalam. Tempatnya berupa Depot, sederhana namun bersih. Jalan yang paling gampang ditempuh adalah melalui jalan Ambengan (melewati persimpangan rel kereta api), kemudian luruuuusss aja (ambil sisi kanan). Kalau udah mentok nanti belok kanan (ke arah undaan/pasar atom), (setelah belok kanan) kalau ketemu u-turn yg pertama langsung belok putar balik kemudian ambil sisi kiri... cari deh itu Jl Ngemplak 1 (gang kecil letaknya agak pojok sebelum tikungan terakhir).

tahu kraton alias tahu campur

Tahu Kraton atau Campur ini memang unik, ada potongan telur rebus, selada, kentang, kecambah, mie kuning, ketela yg udah diolah, daging koyor, tomat, krupuk udang, emping dan tentu saja petis dan kuahnya yang ga tau terbuat dari apa tapi yang pasti bumbunya sedep apalagi kalo dimaem pas panas-panas.... ehhmmm.. enyakk

untuk sepiring tahu kraton dan segelas es teh bisa ditebas dengan harga Rp. 11.000,-

ngincip memberi 4 1/2 kraton dari 5 kraton... gud dan pantas dicoba ;)

Saturday, May 26, 2007

Tipat Cantok - Bali

Kali ini saya nostalgia ama masa masa kuliah dulu di daerah Nusa Dua. Bolos dari kantor buat mampir jauh jauh ke warung yang ada di Jalan Kurusetra. Kalo banyak yang ga tau nama jalannya, tanya aja kalo udah nyampe di daerah Nusa Dua. hehehe. Warungnya kecil, ga ada yang istimewa dari luar. Dan juga gak ada namanya.

Ini salah satu makanan yang simple banget yang jadi favorit anak kuliahan yang harus bisa ngatur budget makan seperti saya dulu.Kenapa namanya tipat cantok? Itu karena makanan ini bahan utamanya adalah tipat (bahasa balinya ketupat) yang dicantok. Nah..dicantok itu piye? Hmmm...diulek terus diaduk aduk di cobek gitu deh pokona. Mungkin banyak juga yang tahu dan mungkin aja ada di daerah daerah lain, tapi sampai sekarang buat saya warung ini masi punya tipat cantok yang terenak. Racikan bumbunya itu pas banget

Bumbunya ga susah. Cuman kacang tanah goreng, bawang putih ama kencur, cabe, gula merah ( kalo orang bali nyebutnya gula bali ) garam, bawang goreng, ama jeruk limo. Sekilas bisa dibilang mirip bumbu pecel, cuman yang ini masih lebih enak daripada yang dijual disupermarket itu.
Tupat nya enak kalo pake tupat yang dibuat dari janur, bukan lontong yang dibungkus daun pisang itu. Trus tambah potongan tahu goreng, ama kecambah. Aduk aduk di cobek....
Kelar.....


Warung ini selalu rame kalo siang. Kadang harus rela antri panjang. Bukan cuman anak kuliahan aja yang sering belanja disini, tapi staf staf hotel juga sering banget keliatan keluyuran disekitar. Mungkin mereka udah pada bosen ama menu kantin di hotelnya. Hehehe...

Trus harganya itu hemat buat kantong. Kalo jaman saya kuliah harganya 2000, tapi sekarang udah naik jadi 3000. Hehe...

Oyah, selain tipat cantok, andalan warung ini adalah rujak kuah pindang. Huaaa....ngiler!