Showing posts with label incheon. Show all posts
Showing posts with label incheon. Show all posts

Thursday, November 22, 2007

Korean Traditional Porridge (본죽 - Bokjuk), Incheon - South Korea

We saw the Bokjuk restaurants for so many times actually. It can be found like almost everywhere (at least) in this city. But last Saturday was the first time we tried it, this time the one nearby Lotte Mart. It took about 20 minutes walking from our apartment in a very cold weather, but it worthed!



It was lunch time so the restaurant was pretty crowded. The menu list was in three languages: Korean, English and Japanese so we didn't get any difficulty to decide which one to choose. Toooo bad I forgot to take picture so I couldn't remember the Korean name of porridge we ordered. I had porridge with mushroom and oyster while Hiro had porridge with abalone.



The porridge came in a large bowl with Korean chili paste, kimchi, and braised pork (maybe) in soy sauce as side dishes. The porridge itself had kind of grated nuts and seaweed as topping. It did smell good and I felt starving in a second.
My porridge was really tasty, with rich amount of mushrooms and oysters. The Kimchi was fresh, and for me the pork was really a perfect match for the porridge (I even finished Hiro's). Hiro's porridge was also very delicious but the abalone was cut into tiny pieces, perhaps because abalone is not as cheap as oyster.

My porridge was 8000 won, and Hiro's porridge was 10,000 won. Bit pricey compared to other Korean food we've had, but I really like it that I'm so sure I'll eat it again sometime soon.

This porridge is now on my "Korean Top Food" list. Too bad we only have about 4 weeks left living here, but I hope at least we could have 3 times porridge lunches (we only dine out on Saturday)

PS: sorry pake bahasa Inggris. Postingan ini sama persis dengan blog pribadi saya. Gak ada waktu buat translate ke Indonesian :p

Saturday, April 07, 2007

Deung Galbi (등갈비), Incheon - South Korea

Entah sudah keberapa puluh kali kita lewati restoran bercat dominan oranye itu dari tahun lalu dan nyeletuk: "hmmmm looks enak ne....". Jendela lebar restoran memajang potongan penjang tulang belakang babi yang lagi dibakar memutar dengan ditusuk lidi panjang. Aromanya? Huikkk bikin perut kedodoran.
Lah trus kenapa gak nyoba dari tahun2 lalu coba? Pertama, karena restoran itu selalu penuh. Kedua karena waktu itu Iki masih kecil jadi masih belum bisa makan yang berlemak.

Disuatu hari minggu tiba-tiba lagi pengen makan samgyeopsal (babi samchan yang dibakar). Eh...sayang restoran langganan tutup. Iseng2 kita coba ngintip restoran oranye itu. Looohh....lagi kosong! memang waktu itu masih terlalu sore buat makan malam. Jadilah kita bergegas masuk dan ambil meja dekat jendela.

Menurut pelayan, menu andalan direstoran itu adalah deung galbi, yang artinya tulang belakang. Karena gak bisa pesan untuk 2 porsi, kitapun pesan untuk 3 porsi. Pertama-tama seperti biasa piring-piring kecil kimchi berdatangan. Hanya saja kali ini ada acar kol sama selada air Korea yang bisa dibilang pertama kali aku temui. Datang juga semangkuk puanasss tenjangchige (miso soupnya Korea) yang meskipun menarik mata karena kuahnya coklat kemerahan (lagi pengen makan yang pedes2 nih ceritanya). Juga diberi 2 pasang sarung tangan buat makan galbi yang sudah dibakar nantinya. Katanya pelayan sih bakal panasss.

Beberapa menit kemudian pelayan datang dengan seember batu bakar yang kemudian dimasukan dalam alat pembakar kecil ditengah meja. Gak lama datang tukang masak bawa potongan panjang tulang belakang babi yang sudah dibakar setengah matang. Potongan tersebut diletakan dialat pembakar dan seorang pelayang menggunting2 potongan besar itu jadi kecil2 (seperti foto) dan membakarnya sampai matang.


Karena dapat peringatan panas dari pelayan, aku langsung pakai sarung tangan. Hmmmm aromanya makkk...bener2 bikin beringas. Sambil cengar cengir kelaparan, langsung ambil satu pakai sarung tangan trus hap. Huaaa...puanassssssssss. Lidahku leleh rasanya (T_T). Bego banget.....pake sarung tangan biar gak kepanasan tapi gak kepikir kalo di lidah juga bakal kerasa panas. Tapi diluar kekagetan karena gigitan pertama itu, aku langsung kaget luar biasa lagi karena....uenaaaaaakkkkk. Bener bener bener enak. Barbeque terenak yang aku makan di korea. Our favourite samgyeopsal yang biasanya ada diurutan pertama langsung tergeser deh. Selain dimakan langsung pakai tangan, pelayan juga menggunting beberapa daging dari tulangnya kecil2. Sepotong daging itu dicocol sedikit di kochujang (sambalnya korea), diletakan diatas selembar selada korea segar (disini dibilang pek cu), dilipat trus langsung dimasukan satu kali kedalam mulut. Ya mulut jadi penuh gitu, pipi langsung menggelembung. Tapi berhubung itu caranya orang korea makan....ya ikut ajahhh.
Tenjang chigenya juga uenakkk. Asin dan ada rasa mirip2 taoconya. Isinya ada tofu sama irisan cabe hijau. Sip lah.

Total kerusakan untuk 3 porsi galbi, 2 nasi putih sama 1 botol beer 29,000 won. Definitely bakal balik makan disana lagi someday sebelum pulang Jepang (^__^).

Duh, ngetik ini jadi ngiler

Friday, March 23, 2007

Somori Suyuk (소머리수육) -Incheon, South Korea

Capek semingguan penuh masak, hari minggu kemaren akhirnya kita putuskan buat dining out. Sebenernya banyak pengen nyoba masakan Korea mumpung masih disini, tapi Iki yang sekarang udah ikutan makan bareng gak mungkin makan yang pedes2. Jadinya pilihan kitapun ya jatoh ke makanan yang gak pedes lah.

Kamipun jalan kaki ke restoran langganan yang menunya serba sapi dan berkuah-kuah. Menurut kami, restoran itu yang paling enak lah diseluruh korea kalo buat tipe masakan itu. Kali ini dari menu kita pilih somori suyuk. "So" artinya sapi, "mori" artinya kepala. Jadi bisa disimpulkan yang dihidangkan ya bagian kepalanya sapi.
Pertama-tama seperti di seluruh restoran masakan Korea, datang dulu berpiring-piring kecil kimchi sebagai makanan pembuka. Semuanya gratisss. Tapi kita mesti gak pernah ngabisin barang gratisan itu. Selain Hiro gak suka pedes, aku mau nyiapin ruang2 di lambung buat main food instead of appetizer.

Gak lama nunggu, datanglah sang Somori Suyuk. Hadir dalam wajan batu dangkal yang lebar, lengkap sama kompor gas portable. Aroma kaldu sapi yang pekat bikin piring2 berisi kimchi makanan pembuka tadi tiba-tiba gak menarik lagi. Somori Suyuk ini berisi irisan tipis bagian kepala sapi yang disusun melingkar dibagian dasar wajan, dan beberapa macam sayuran diatasnya. Ada enoki (jamur putih kurus), nira (sejenis daun bawang tapi tipisss), korma, shiitake segar, wortel dan bawang bombay. Well, setidaknya sayur2 itu yang berhasil dikenali penulis hehehe. Kalopun ada yang lain, pasti gak ditulis disini soalnya gak tau namanya :p. Kuahnya cuma sedikit, tapi karena daging sapi bagian kepala ternyata mengandung semacam gelatin, kuahnya jadi kental.



Jerih payah pakai sumpit korea yang dari besi panjang dan gepeng itu hilang lenyap begitu irisan daging tipis pertama masuk dalam mulut (sebelumnya dicocok dulu di mangkuk kecil berisi kecap asin korea, sedikit irisan cabe hijau dan wasabi). Uenakkkkk. legit gitu loh. Ada manis2nya juga hasil urun rasa dari sayur-mayur penghias itu. Entah bagian mana aja dari kepala sapi ada disana, aku cuma bisa mengenali lidah. Rasa kuat dari kaldu itu dinetralisir semangkuk nasi dalam mangkuk besi. Oh ya, di korea harus makan both pake sendok sama sumpit. Sampe sekarang sih masih gak terbiasa makan nasi pake sendok di tangan kiri hihihi, jadi ya tetep ae semua pake tangan kanan, gantian :p.
Setelah semua bahan jadi lembek, datanglah pelayan nyiram wajan itu pakai kuah kaldu sapi lagi. Nyammmm

Makanan ini bisa dibilang dapat bintang 5. Total kerusakan untuk porsi buat 2 orang, 1 mangkuk seolongtan (buat iki), dan 1 botol beer besar 29,000 won (kira-kira Rp. 270.000,00)

Saturday, February 03, 2007

Samgaetang - Incheon, South Korea

Awal musim panas di Korea, selain ditandai matahari yang tiba2 terasa terik sekali dan kelembaban tinggi (setelah berbulan bulan kedinginan dan diterpa angin kencang), juga ditandai panjangnya antrian di restoran2 yang menyajikan samgaetang.

Samgaetang atau lebih dikenal dengan ginseng chicken soup, memang makanan khas penyambut musim panas. Awalnya sih aku bingung: hah? gak salah? panas2 kok makannya soup yang asapnya mengepul2 gitu?!. Tapi ternyata orang sini percaya bahwa samgaetang yang panas itu bisa memberi efek "mendinginkan tubuh" juga energi buat menjaga stamina sepanjang musim panas.

Hari ini gak terlalu panas. Jadi kita putuskan buat makan malamsamgaetang. Awal summer sudah lewat, jadi seharusnya restoran samgaetang sudah gak seantri dulu lagi. Yahh...berhubung aku bukan orang korea, ya merasa gak wajib makan samgaetang di musim rame itu. Bayangin! udah panasss, laparr, masih harus antri diluar restoran. Gak deh :p.

Denger2 restoran samgaetang terkenal di daerah kami tinggal ada di dekat Seonhak station. Restaurant dengan papan nama "moyeonchi" itu tampak sepi dari luar. Teriakan "Ossoseooo" panjang menyambut begitu pintu saya buka. Kamipun duduk disalah satu meja disana (yah, of course lesehan style). 5 menit setelah pesan 2 porsi samgaetang dan 2 botol beer, pelayan datang menyajikan beberapa macam kimchi dan kochujang (sambal). Kimchi di korea disajikan dimana2 sebagai appetizer, dan gratis. Free flow lagi! Rupanya samgaetang yang kami pesan ini butuh waktu agak lama, jadi kimchi ini lumayan ngganjal perut yang keroncongan.

Setelah 10 menit, akhirnya datang juga pesanan kami. Samgaetang disajikan dalam hot pot. Asap tebal masih mengepul2, menebarkan aroma ginseng yang kuat. Aromanya saja sudah bikin aku "beringas". Samgaetang berisi ayam utuh yang dalamnya diisi nasi manis (chap sal) yang sudah dicampur bumbu2. Ayam isi ini kemudian direbus sampai empuk, kemudian disajikan bersama kuah dan taburan daun bawang yang banyak (daun bawangnya yang besar2...hmmm bahasa indonesianya saya kurang tahu. Orang jepang bilang "negi", inggrisnya "leek").



Pertama2 kuahnya aku taburi garam (kuahnya tawar), kochujang (sambal) dan black pepper. Setelah icip2 dan rasa kuahnya pas, bagian tengah ayam kurobek dengan sumpit, tampak gumpalan nasi dengan pucuk ginseng menyembul. Sendokan pertama, awww kepanasan :p (always!). Tapi rasanya bener bener enakkk. Tak terkatakan. Nasinya sedep banget. Ada rasa ginseng bercampur bawang putih yang bikin gurih. Didalam campuran itu saya nemu ginseng, bawang putih, jahe, chestnut, juga surprisingly korma. Bener2 keringetan deh makannya (both lagi2 karena nikmat dan panas).

Total kerusakan untuk 2 porsi samgaetang dan 2 botol "hite" beer sebesar 23000 won (kira2 Rp. 230.000).

Tapi abis makan kok gak dapat efek "dingin" ya? tetep aja kerasa panas :p. Samgaetang memang makanan panas dimusim panas :p. Ahhh....sampai jumpa lagi di awal summer, samgaetang!